Menu

Dark Mode
Pengabdian ASN Diperkuat dengan Inovasi, Gubernur Khofifah Dorong SIKAP dan Pengelolaan Sampah Jadi Praktik Baik Gubernur Khofifah Undang Anak-Anak yang Hormat Bendera dari Luar Grahadi, Teguhkan Semangat Nasionalisme Generasi Muda Usai Tuntaskan Tugas HUT ke-81 RI, Gubernur Khofifah Ajak Paskibraka Jatim Jadikan Pengalaman sebagai Bekal Kepemimpinan Gubernur Khofifah: Nasionalisme dan Persatuan Masyarakat Jatim Jadi Modal Kuat Wujudkan Indonesia Berdaulat HUT ke-81 RI di Grahadi, Gubernur Khofifah Ajak Jawa Timur Perkuat Kontribusi bagi Kedaulatan dan Kemajuan Indonesia Jawa Timur Bergerak untuk NTT, Gubernur Khofifah Kerahkan Tim SAR dan Tenaga Kesehatan serta Siapkan Bantuan Logistik

Ekonomi & Bisnis

Permen Komdigi 8/2025 Pacu Pertumbuhan Ekonomi Digital dan Cegah Perang Tarif

badge-check


Permen Komdigi 8/2025 Pacu Pertumbuhan Ekonomi Digital dan Cegah Perang Tarif Perbesar

Jakarta – Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres Pos dan Logistik Indonesia (ASPERINDO) menyatakan dukungan penuh terhadap terbitnya Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital (Permen Komdigi) Nomor 8 Tahun 2025 tentang Layanan Pos Komersial, karena bisa memacu pertumbuhan ekonomi digital lebih masif.

Regulasi itu sendiri resmi diumumkan oleh Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, pada Jumat (16/5/2025) lalu di Jakarta.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) ASPERINDO, Tekad Sukatno, menyebut bahwa aturan baru ini merupakan bentuk turunan dari UU Nomor 38 Tahun 2009 tentang Pos dan PP Nomor 15 Tahun 2013 tentang Pelaksanaan UU tersebut.

Ia menyadari bahwa terbitnya Permen itu membawa sejumlah implikasi yang menuntut para penyelenggara pos untuk menyesuaikan diri dengan ketentuan baru yang tercantum.

“Regulasi ini menjadi landasan pembaruan menyeluruh terhadap ekosistem pos dan kurir yang semakin vital dalam mendukung pertumbuhan ekonomi digital dan konektivitas nasional di era e-commerce saat ini,”  pada Minggu (18/5/2025).

Salah satu fokus utama dalam Permen Komdigi Nomor 8/2025 sendiri adalah mencegah praktik perang tarif yang dapat menimbulkan persaingan usaha tidak sehat di industri pos dan kurir. Untuk itu, ASPERINDO mengimbau seluruh perusahaan anggotanya agar lebih menekankan kualitas layanan ketimbang sekadar tarif murah.

Sekjen ASPERINDO itu juga menegaskan bahwa program “free ongkir” yang sering ditawarkan oleh platform e-commerce bukan berasal dari penyelenggara pos atau kurir, melainkan merupakan strategi promosi dari marketplace itu sendiri. ASPERINDO pun menyatakan bahwa dalam Peraturan Menteri yang baru ini tidak diatur mengenai promosi “free ongkir”, melainkan justru mendorong mekanisme harga grosir melalui kesepakatan adil dan transparan antara penyelenggara pos dan pengguna jasa.

“Perlu digarisbawahi, tidak ada layanan free ongkir dari penyelenggara pos. Jika pun ada, itu dilakukan dalam konteks aksi sosial saat bencana atau kondisi khusus sebagai bentuk kepedulian secara sukarela dari pelaku usaha pos dan kurir,” tegasnya.

Lebih lanjut, Tekad berharap dengan adanya regulasi baru tersebut, efisiensi operasional, standarisasi kualitas layanan, dan perluasan jangkauan pengiriman dapat meningkat sehingga layanan pos komersial mampu menjangkau seluruh pelosok Nusantara.

ASPERINDO sendiri telah memastikan bahwa regulasi ini telah melalui proses harmonisasi lintas kementerian. Oleh karena itu, mereka berharap ketentuan baru ini bisa diterapkan secara optimal untuk mendukung pertumbuhan sektor jasa pengiriman serta menjawab tantangan distribusi barang kiriman hingga ke daerah-daerah terpencil.

“Peraturan ini hendaknya berlaku bagi seluruh pelaku industri yang menjalankan praktik penyelenggaraan jasa pos, kurir, dan logistik, termasuk aktivitas pengumpulan (collecting), pemrosesan (processing), pengangkutan (transporting), dan pengiriman (delivery),” pungkasnya.

Seperti yang diketahui, Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital resmi menerbitkan Permen Nomor 8 Tahun 2025 tentang Layanan Pos Komersial. Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi nasional untuk membangun sistem logistik yang lebih efisien, adil, dan merata di seluruh wilayah Indonesia.

Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menyatakan bahwa regulasi ini merupakan pelaksanaan langsung dari arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya memperkuat jalur distribusi nasional. Ia menegaskan bahwa industri pos dan logistik bukan hanya sarana pengantaran barang, tetapi bagian dari infrastruktur ekonomi dan sosial bangsa.

“Hari ini kita hadirkan langkah konkret untuk memperkuat distribusi nasional melalui Peraturan Menteri Nomor 8 Tahun 2025. Industri pos, kurir, dan logistik bukan hanya soal kirim-mengirim barang, tapi tentang menjaga konektivitas, membuka akses ekonomi, dan menggerakkan harapan masyarakat hingga ke pelosok,” tegas Meutya dalam Konferensi Pers di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta, Jumat (16/5/2025).

Dengan dikeluarkannya pertaruran itu, diharapkan menjadi landasan pembaruan menyeluruh terhadap ekosistem pos dan kurir yang semakin vital dalam mendukung pertumbuhan ekonomi digital dan konektivitas nasional.

Baca Lainnya

Pasar Murah dan Pembagian Bendera Meriahkan HUT ke-81 RI, Gubernur Khofifah: Pemerintah Harus Hadir

16 August 2026 - 12:03 WIB

Perkuat Perdagangan Antarwilayah, Gubernur Khofifah Catatkan Transaksi Rp2,529 Triliun Bersama Kalimantan Barat

11 August 2026 - 12:38 WIB

Gubernur Khofifah Pastikan Intervensi Harga Pangan Berkelanjutan, Pasar Murah Disambut Antusias Warga Pasuruan

8 August 2026 - 11:13 WIB

Berita Populer di Ekonomi & Bisnis