Menu

Dark Mode
Kebakaran KMP Mutiara Sentosa II, Gubernur Khofifah dan Kapolda Jatim Pastikan Evakuasi Berjalan Terpadu BI Mengajar 2026 di SMAN Taruna Nala, Khofifah dan Destry Damayanti Dorong Generasi Muda Siap Hadapi Tantangan Zaman Gubernur Khofifah Siapkan Penguatan Talenta Cyber Security, Siswa Jatim Diproyeksikan Lanjut Studi hingga Internasional Gubernur Khofifah dan Menko AHY Resmikan Penataan Kawasan Kumuh Campurejo, Tingkatkan Kualitas Hidup 1.152 Warga Kenang 79 Tahun Perjuangan TRIP, Gubernur Khofifah: Usia Muda Bukan Penghalang untuk Berkontribusi bagi Indonesia HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Pemprov Jatim Bebaskan Sejumlah Pajak dan Sanksi Administratif, Gubernur Khofifah: Ringankan Beban Masyarakat

Nusantara

PGRI dan Praktisi Dukung Penjurusan IPA, IPS dan Bahasa di SMA

badge-check


PGRI dan Praktisi Dukung Penjurusan IPA, IPS dan Bahasa di SMA Perbesar

Jakarta, InfoPublik — Rencana Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk kembali menerapkan sistem penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) pada tahun ajaran 2025/2026 mendapat dukungan luas dari para guru dan praktisi pendidikan.

Ketua Umum PB PGRI, Unifah Rosyidi, menyambut baik kebijakan ini. Menurutnya, penjurusan penting agar siswa dapat mendalami bidang ilmu sesuai minat dan potensi mereka.

“Jika siswa tidak memahami dasar ilmu dengan baik, maka sulit bagi mereka memilih peminatan secara tepat. Penjurusan membantu mereka menjadi ahli di bidang yang sesuai dengan minatnya,” ujar Unifah, dalam keterangan tertulis yang diterima InfoPublik, Senin (14/4/2025).

Dukungan juga datang dari Heriyanto, seorang praktisi pendidikan, yang menilai bahwa kebijakan penghapusan penjurusan sebelumnya tidak sepenuhnya efektif di lapangan. Ia menjelaskan bahwa siswa kesulitan dalam menentukan arah karier sejak dini, dan kondisi ini berdampak pada pemilihan mata pelajaran.

“Misalnya siswa kelas XI awal ingin jadi dokter, lalu ambil biologi dan kimia, tapi ternyata kelas XII berubah ingin jadi insinyur. Sayangnya, ia tak ambil fisika sebelumnya. Ini yang sering jadi masalah,” jelas Heri.

Ia juga menyoroti belum selarasnya kurikulum SMA dengan kebutuhan perguruan tinggi. Beberapa mata kuliah dasar seperti fisika, kimia, dan biologi tetap menjadi syarat meski jurusan mahasiswa tidak secara langsung membutuhkannya.

Senada dengan itu, Ignasius Sudaryanto, guru Geografi di SMA Pangudi Luhur II Servasius Bekasi, menyampaikan bahwa penjurusan justru memudahkan sekolah dalam pengelolaan sumber daya pengajar.

“Selama ini guru kesulitan membagi jam mengajar karena tidak semua mata pelajaran dipilih siswa. Ini berpengaruh ke tunjangan profesi. Kalau kembali ke sistem jurusan, siswa bisa lebih fokus, dan sekolah bisa lebih mudah mengatur beban kerja guru,” tutur Sudaryanto.

Ia menambahkan bahwa banyak siswa merasa bingung dalam memilih mata pelajaran karena tidak memiliki acuan yang jelas, dan pada akhirnya, pemilihan itu tidak selalu sesuai dengan kebutuhan pendidikan lanjutan mereka.

Dukungan dari para pendidik ini menegaskan pentingnya sistem penjurusan sebagai bentuk penguatan pendidikan menengah. Dengan pilihan jurusan yang jelas, siswa diharapkan bisa lebih fokus, pendidik lebih terfasilitasi, dan transisi ke pendidikan tinggi menjadi lebih sinkron.

Kebijakan ini rencananya akan mulai diterapkan kembali secara nasional pada tahun ajaran 2025/2026, sebagai bagian dar

Baca Lainnya

Kolaborasi FISIP UNAIR, BPBD, dan Pemerintah Setempat Perkuat Kapasitas Warga Simomulyo Baru Menghadapi Berbagai Potensi Bencana

1 July 2026 - 08:55 WIB

Inovasi E-Asesmen Berbasis STEAM Dorong Penguatan Multiliterasi Siswa di SMPN Ngusikan Jombang

24 June 2026 - 15:17 WIB

Khofifah Ajak Alumni FH UNAIR Tingkatkan Pengabdian bagi Almamater, Bangsa, dan Negara

14 June 2026 - 03:23 WIB

Berita Populer di Pendidikan