Menu

Dark Mode
Kebakaran KMP Mutiara Sentosa II, Gubernur Khofifah dan Kapolda Jatim Pastikan Evakuasi Berjalan Terpadu BI Mengajar 2026 di SMAN Taruna Nala, Khofifah dan Destry Damayanti Dorong Generasi Muda Siap Hadapi Tantangan Zaman Gubernur Khofifah Siapkan Penguatan Talenta Cyber Security, Siswa Jatim Diproyeksikan Lanjut Studi hingga Internasional Gubernur Khofifah dan Menko AHY Resmikan Penataan Kawasan Kumuh Campurejo, Tingkatkan Kualitas Hidup 1.152 Warga Kenang 79 Tahun Perjuangan TRIP, Gubernur Khofifah: Usia Muda Bukan Penghalang untuk Berkontribusi bagi Indonesia HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Pemprov Jatim Bebaskan Sejumlah Pajak dan Sanksi Administratif, Gubernur Khofifah: Ringankan Beban Masyarakat

Nusantara

Mendikdasmen : Sekolah Rakyat Gunakan Sistem Fleksibel dan Fokus Anak Putus Sekolah

badge-check


Mendikdasmen : Sekolah Rakyat Gunakan Sistem Fleksibel dan Fokus Anak Putus Sekolah Perbesar

Jakarta — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah  (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa program Sekolah Rakyat merupakan inisiatif yang berada di bawah wewenang Kementerian Sosial, termasuk dalam hal anggaran dan kebijakan teknis.

“Namun, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tetap dilibatkan dalam proses penyusunan sistem pendidikan dan rekrutmen guru, jadi sistemnya nanti fleksibel dan fokus pada anak putus sekolah,” ujar Abdul Mu’ti, saat dihubungi tim InfoPublik, Selasa (15/4/2025).

Mu’ti menjelaskan bahwa guru di Sekolah Rakyat akan direkrut melalui kontrak kerja individu, bukan berstatus ASN. Para guru ini harus sudah lulus Pendidikan Profesi Guru (PPG), bersedia mengajar penuh waktu, dan memiliki kemampuan untuk mengajar lebih dari satu mata pelajaran.

“Guru yang dikontrak tidak terikat ASN, dan memang dikontrak untuk mengajar di situ—Sekolah Rakyat,” ujar Mu’ti, dalam keterangan tertulis yang dikutip dari Antara.

Struktur kepemimpinan Sekolah Rakyat juga akan menyesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Tidak menutup kemungkinan satu kepala sekolah menangani tiga jenjang pendidikan sekaligus, yaitu SD, SMP, dan SMA dalam satu lokasi, tergantung jumlah murid yang terdaftar.

Kurikulum Sekolah Rakyat akan berbeda dari sekolah reguler. Mengusung pendekatan individual (individual approach), sekolah ini memungkinkan siswa masuk kapan saja tanpa mengikuti tahun ajaran. Sistem yang digunakan disebut multi-entry multi-exit, yang berarti siswa bisa memulai belajar kapan saja dan menyelesaikannya sesuai pencapaian pribadi, bukan berdasarkan waktu kelas semata.

“Tidak harus semua siswa disamakan. Yang penting adalah mereka bisa belajar dan karakternya terbentuk melalui asrama,” tegas Mu’ti.

Rekrutmen siswa dilakukan melalui sistem Dapodik yang diintegrasikan dengan data DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial). Fokusnya adalah pada anak-anak dari keluarga pra-sejahtera yang tidak tercatat dalam sistem pendidikan formal.

“Kalau mereka desil satu dan dua tapi tidak terdata di Dapodik, artinya mereka putus sekolah. Jadi, Sekolah Rakyat tidak akan mengambil anak yang sudah bersekolah,” jelas Mu’ti.

Untuk tahap awal, daftar nama guru yang akan ditugaskan di Sekolah Rakyat (by name by address) akan diserahkan pada 24 April 2025. Langkah ini menjadi bagian dari persiapan implementasi kebijakan pendidikan inklusif dan adaptif yang lebih merata secara nasional.

Baca Lainnya

Kolaborasi FISIP UNAIR, BPBD, dan Pemerintah Setempat Perkuat Kapasitas Warga Simomulyo Baru Menghadapi Berbagai Potensi Bencana

1 July 2026 - 08:55 WIB

Inovasi E-Asesmen Berbasis STEAM Dorong Penguatan Multiliterasi Siswa di SMPN Ngusikan Jombang

24 June 2026 - 15:17 WIB

Khofifah Ajak Alumni FH UNAIR Tingkatkan Pengabdian bagi Almamater, Bangsa, dan Negara

14 June 2026 - 03:23 WIB

Berita Populer di Pendidikan