Menu

Dark Mode
Gubernur Khofifah Sebut Militansi dan Kekuatan Organisasi Muslimat NU Menjadi Modal Besar Hadirkan Kemaslahatan bagi Umat dan Bangsa Hadiri Peluncuran B50 Bersama Presiden Prabowo, Gubernur Khofifah Pastikan Jawa Timur Siap Menjadi Penggerak Transisi Energi Nasional Gubernur Khofifah Sebut Open House Sekolah Rakyat Jadi Sarana Edukasi Orang Tua dan Penguatan Kepercayaan terhadap Program Ponpes Bumi Damai Al-Muhibbin Resmi Luncurkan SIPT, Satgas Anti Perundungan, dan Balitbang sebagai Motor Transformasi Pesantren Dipimpin Gubernur Khofifah, Misi Dagang Jatim–Riau Catat Rekor Transaksi Rp1,06 Triliun dan Perkuat Rantai Pasok Nasional Bertemu Alumni UNAIR di Pekanbaru, Gubernur Khofifah Ajak Perkuat Sinergi, Berbagi Praktik Baik, dan Bangun Inovasi Lintas Daerah

Sosial & Budaya

Gubernur Khofifah Sebut Militansi dan Kekuatan Organisasi Muslimat NU Menjadi Modal Besar Hadirkan Kemaslahatan bagi Umat dan Bangsa

badge-check


Gubernur Khofifah Sebut Militansi dan Kekuatan Organisasi Muslimat NU Menjadi Modal Besar Hadirkan Kemaslahatan bagi Umat dan Bangsa Perbesar

PEKANBARU, 10 JULI 2026 – Ketua Umum Dewan Pembina Pimpinan Pusat (PP) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Khofifah Indar Parawansa menyaksikan Deklarasi Perdamaian yang disampaikan Pengurus Wilayah (PW) Muslimat NU Provinsi Riau berisi sembilan himbauan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar segera menghentikan berbagai konflik bersenjata dan perang di berbagai belahan dunia serta memperkuat langkah-langkah mewujudkan perdamaian dunia yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Deklarasi tersebut disampaikan dalam rangkaian  Harlah ke-80 PW Muslimat NU  Provinsi Riau yang diselenggarakan  di Menara Dang Merdu Bank Riau Kepri Syariah, Pekanbaru, Rabu (8/7).

Khofifah menyampaikan apresiasi atas lahirnya deklarasi tersebut. Menurutnya, seruan tersebut merupakan bentuk nyata kepedulian Muslimat NU terhadap persoalan kemanusiaan global sekaligus penegasan bahwa organisasi perempuan terbesar di Indonesia itu terus mengambil bagian dalam membangun budaya damai di tingkat dunia.

“Muslimat akan terus senantiasa berjuang menyerukan perdamaian di muka bumi. Salah satunya melalui seruan kepada PBB agar seluruh pihak menjaga anak-anak, menjaga layanan pendidikan, menjaga layanan kesehatan, termasuk menjaga keselamatan jurnalis, dan yang paling penting menjaga kehidupan kemanusiaan,” katanya.

Menurut Khofifah, semangat perjuangan Muslimat NU selama ini tidak hanya diwujudkan melalui program sosial dan pemberdayaan masyarakat, tetapi juga melalui kekuatan religiusitas yang menjadi fondasi gerakan organisasi perempuan terbesar di Indonesia tersebut.

Ia menilai militansi kader Muslimat NU dalam berkontribusi terhadap pembangunan keumatan menjadi modal besar dalam menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.

“Muslimat NU Insya Allah merupakan organisasi yang well-organized. Kekuatan ini menjadi modal untuk terus bergerak dan memberi manfaat bagi umat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Khofifah mengungkapkan bahwa Muslimat NU selama ini juga berkontribusi menjaga persatuan bangsa melalui gerakan sosial – spiritual. Berbagai kegiatan sosial keagamaan dilaksanakan di semua tingkatan krpengurusan mulai tingkat ranting (desa/ kelurahan) sampai nasional.

Menurutnya, ikhtiar tersebut dilakukan sebagai bentuk doa agar Indonesia tetap damai dan terhindar dari perpecahan.

“Muslimat ingin menjaga negeri ini agar tetap damai. Suasana persaudaraan harus dibangun dengan semangat saling membantu, mewujudkan perdamaian dan kesejukan di tengah masyarakat,” katanya.

Ia menjelaskan, upaya membangun perdamaian membutuhkan ekosistem yang kuat dan berkelanjutan. Jika ekosistem itu dibangun dengan keikhlasan dan kebersamaan, maka akan menghadirkan keberkahan bagi bangsa.

“Muslimat NU  memiliki keikhlasan yang luar biasa. Ketika mereka berdoa, insyaallah pintu langit akan terbuka dan Allah memberikan maunah kepada seluruh warga bangsa Indonesia,” ujarnya.

Selain menguatkan gerakan sosial dan spiritual, Khofifah juga menyampaikan sejumlah langkah strategis yang tengah dikembangkan Muslimat NU. Salah satunya melalui pembentukan Asosiasi Profesor serta paralegal Muslimat NU.

Menurutnya, keberadaan asosiasi tersebut menjadi kebanggaan tersendiri karena menunjukkan semakin besarnya kontribusi perempuan Muslimat NU dalam dunia akademik dan pengembangan ilmu pengetahuan serta layanan hukum di tingkat akar rumput.

“Di dunia ini, organisasi perempuan yang memiliki Asosiasi Profesor perempuan, insyaallah baru  Muslimat NU. Kita berharap para guru besar dapat meluaskan kontribusinya untuk menjadi ladang amal pencerdasan kehidupan bangsa,” katanya.

Tidak hanya itu, Muslimat NU juga terus memperkuat layanan konsultasi hukum bagi masyarakat, khususnya penyelesaian persoalan secara non litigasi melalui paralegal. 

“Muslimat NU ingin melakukan penguatan layanan hukum melalui pendampingan hukum secara non litigasi  bagi masyarakat di tingkat akar rumput. Ini menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan keadilan dan perlindungan hukum bagi masyarakat,” ujarnya.

Saat ini , Muslimat NU juga sedang  menyiapkan peace maker  sebagai problem solver yang mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan di tengah masyarakat.

Menurut Khofifah, kader-kader Muslimat NU diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang membawa kemaslahatan bagi umat, mulai dari tingkat keluarga, lingkungan, hingga level kebijakan yang lebih luas.

“Dengan kekuatan organisasi, penguatan sumber daya manusia, serta semangat pengabdian yang terus dijaga, Muslimat NU akan terus hadir memberikan manfaat dan menjadi bagian penting dalam menjaga perdamaian, persatuan, dan kemajuan bangsa,” pungkasnya.

Baca Lainnya

Gubernur Khofifah Sebut Open House Sekolah Rakyat Jadi Sarana Edukasi Orang Tua dan Penguatan Kepercayaan terhadap Program

9 July 2026 - 07:35 WIB

Ponpes Bumi Damai Al-Muhibbin Resmi Luncurkan SIPT, Satgas Anti Perundungan, dan Balitbang sebagai Motor Transformasi Pesantren

9 July 2026 - 05:07 WIB

Bertemu Alumni UNAIR di Pekanbaru, Gubernur Khofifah Ajak Perkuat Sinergi, Berbagi Praktik Baik, dan Bangun Inovasi Lintas Daerah

8 July 2026 - 08:20 WIB

Berita Populer di Sosial & Budaya