SURABAYA, 25 OKTOBER 2026 – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan rasa syukur , apresiasi dan kebanggaannya atas prestasi atlet asal Jawa Timur yang memperkuat Kontingen Indonesia pada Asian Para Games ke-5 di Aichi–Nagoya, Jepang.
Berdasarkan rekapitulasi Komite Paralimpiade Indonesia (NPCI) Provinsi Jawa Timur per Sabtu (24/10) pukul 08.00 WIB, enam atlet asal Jawa Timur berhasil membukukan 13 perolehan medali, terdiri atas dua emas, lima perak, dan enam perunggu dari empat cabang olahraga.
Salah satu pencapaian menonjol ditorehkan Maulana Rifky Yavianda dari cabang para renang. Ia mempersembahkan emas pertama bagi Indonesia melalui nomor 100 meter gaya bebas putra kelas S12 di Nagoya City General Gymnasium, Senin (19/10). Maulana mencatatkan waktu 55,34 detik, mengungguli perenang Uzbekistan Dmitriy Khorlin yang meraih perak dengan waktu 55,44 detik. Sementara itu, perenang Jepang Genki Saito memperoleh perunggu dengan waktu 57,54 detik.
Sehari kemudian, Maulana kembali meraih emas pada nomor 100 meter gaya punggung putra S12 dengan waktu 1 menit 3,07 detik. Maulana turut menambah dua perak melalui nomor 50 meter gaya bebas putra S13 dan 100 meter gaya kupu-kupu putra S12. Dalam perlombaan tersebut, ia berhasil membukukan dua rekor Asia, yakni 30,31 detik pada jarak 50 meter dan 1 menit 3,07 detik pada jarak 100 meter. Secara keseluruhan, ia membukukan dua emas dan dua perak.
Atas keberhasilan mempersembahkan emas pertama Indonesia, Khofifah sebelumnya telah menyampaikan apresiasi secara khusus kepada Maulana pada Selasa (20/10). Ia menilai capaian tersebut menunjukkan kontribusi atlet Jawa Timur dalam mengharumkan nama bangsa di panggung internasional.
“Alhamdulillah, selamat dan terima kasih kepada Maulana Rifky Yavianda yang telah mempersembahkan medali emas pertama untuk Indonesia di Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026. Ini adalah kebanggaan Jawa Timur untuk Merah Putih. Terima kasih telah mengharumkan nama Jawa Timur dan Indonesia,” ujar Khofifah.
Menurutnya, persaingan ketat pada nomor tersebut memperlihatkan pentingnya kesiapan fisik, teknik, dan konsentrasi hingga akhir perlombaan. Prestasi Maulana menjadi cerminan proses latihan yang panjang, kedisiplinan, serta kesungguhan untuk terus meningkatkan kemampuan.
“Di balik medali emas ini ada latihan yang konsisten, kerja keras, dan ketangguhan menjaga fokus dalam pertandingan. Rifky telah menunjukkan kualitasnya untuk bersaing dengan atlet-atlet terbaik Asia. Semangat dan kesungguhan seperti inilah yang patut menjadi inspirasi bagi generasi muda,” katanya.
Dalam pernyataannya saat itu, Khofifah juga mengajak masyarakat memberikan doa dan dukungan kepada seluruh atlet Indonesia yang tengah berlaga. Keberhasilan Maulana diharapkan menjadi penyemangat bagi rekan-rekannya untuk memberikan penampilan terbaik.
“Teruslah berjuang, jaga kesehatan, tetap fokus, dan junjung tinggi sportivitas. Semoga keberhasilan Rifky menjadi penyemangat untuk menghadirkan prestasi-prestasi berikutnya. Doa dan dukungan masyarakat Jawa Timur menyertai perjuangan seluruh atlet Indonesia,” pesannya.
Capaian bersejarah lainnya datang dari cabang para panahan melalui Ken Swagumilang. Bersama Arif Firmansyah, Ken meraih perak nomor ganda putra compound pada Rabu (21/10), setelah menghadapi wakil Thailand pada partai final dengan skor 147–150.
Hasil tersebut menjadi medali perak pertama Indonesia dari cabang para panahan sepanjang keikutsertaan dalam Asian Para Games.
Pada Kamis (22/10), Ken kembali meraih perak bersama Teodora Audi Ayudia Ferelly melalui nomor beregu campuran compound. Pasangan Indonesia menghadapi wakil India pada partai final yang berakhir dengan skor 148–151.
Khofifah menilai, rekor Maulana dan pencapaian Ken mencerminkan kualitas atlet Jawa Timur dalam persaingan internasional. Keberhasilan keduanya juga menegaskan pentingnya pembinaan yang konsisten untuk mengembangkan potensi atlet.
“Maulana dan Ken telah mempersembahkan pencapaian yang sangat membanggakan. Ada kerja keras dan proses panjang di balik setiap penampilan mereka. Semoga keberhasilan ini semakin menguatkan semangat para atlet untuk terus meningkatkan kemampuan dan mempersembahkan prestasi terbaik bagi Merah Putih,” tuturnya.
Selain Maulana dan Ken, empat atlet asal Jawa Timur turut mempersembahkan medali dari cabang para renang, para atletik, dan para bulu tangkis.
Di cabang para renang, Mutiara Cantik Harsanto memperoleh perak nomor 100 meter gaya dada putri SB9 dan bersama Zahra Nur Azizah berhasil memperoleh medali perunggu nomor estafet campuran 4 × 100 meter gaya ganti 34 poin.
Dalam rekapitulasi per atlet, para renang mencatatkan dua emas, tiga perak, dan dua perunggu. Para panahan menghasilkan dua perak, sedangkan para atletik dan para bulu tangkis masing-masing menghasilkan dua perunggu.
Dari para atletik, Nanda Mei Sholihah meraih dua perunggu melalui nomor 200 meter putri T47 dan 100 meter putri T47. Sementara itu, Khalimatus Sa’diyah mempersembahkan dua perunggu para bulu tangkis dari nomor ganda putri SL3–SU5 dan tunggal putri SL4.
Kontribusi tersebut menjadi bagian dari perjuangan Kontingen Indonesia di panggung Asia. Berdasarkan data perolehan medali nasional akhir, Indonesia berada di peringkat kedelapan dengan 73 medali, terdiri atas 15 emas, 21 perak, dan 37 perunggu.
Apresiasi Khofifah juga ditujukan kepada tiga atlet asal Jawa Timur lainnya yang memperkuat Indonesia, yakni Firza Faturrahman Listianto dari para atletik, Ubaidillah Amsyar Juba dari para renang, serta Ria Yuliati dari para taekwondo.
Menurutnya, pengalaman bertanding di tingkat Asia merupakan bagian penting dalam perjalanan prestasi. Seluruh atlet yang dipercaya mewakili Indonesia telah menjalani persiapan dan berjuang memberikan kemampuan terbaiknya.
“Kepada para atlet yang belum berhasil meraih medali, terima kasih telah berjuang membawa nama Indonesia. Tetaplah bersemangat dan jadikan pengalaman ini sebagai bekal untuk memperbaiki serta meningkatkan kemampuan. Perjuangan panjenengan semua tetap menjadi bagian dari kebanggaan Jawa Timur,” pesannya.
Dengan demikian, Jawa Timur berkontribusi melalui sembilan atlet dari empat cabang olahraga serta seorang pelatih para judo, Imam Kuncoro. Atlet binaan Imam mencatatkan satu perak dan dua perunggu. Capaian tersebut merupakan kontribusi kepelatihan yang disajikan tersendiri dan tidak dimasukkan dalam penghitungan 13 catatan medali atlet asal Jawa Timur.
Khofifah turut mengapresiasi para pelatih, keluarga, pengurus NPCI, serta seluruh tim pendukung. Pendampingan sejak proses latihan hingga pertandingan dinilainya memiliki peran penting dalam menjaga kebugaran, kesiapan, dan kepercayaan diri atlet.
“Terima kasih kepada para pelatih, keluarga, dan seluruh tim yang terus mendampingi perjuangan para atlet. Dukungan yang diberikan selama proses pembinaan hingga pertandingan merupakan bagian penting dari lahirnya prestasi yang membanggakan ini,” ungkapnya.
Khofifah menegaskan, capaian Asian Para Games 2026 perlu menjadi pijakan untuk memperkuat pembinaan olahraga yang inklusif dan berkelanjutan. Setiap atlet harus memperoleh kesempatan mengembangkan potensi melalui fasilitas latihan yang sesuai kebutuhan, pendampingan berkualitas, serta pengalaman berkompetisi.
“Kita ingin semakin banyak talenta olahraga Jawa Timur mendapatkan kesempatan untuk tumbuh dan berprestasi. Karena itu, akses pembinaan dan dukungan bagi atlet penyandang disabilitas harus terus diperkuat agar mereka dapat mengembangkan kemampuan secara optimal,” tegasnya.
Ia berharap kolaborasi antara pemerintah, NPCI, pelatih, keluarga, dan berbagai pihak terus diperkuat untuk menjaga kesinambungan prestasi sekaligus menyiapkan generasi atlet berikutnya. Penghargaan terhadap perjuangan atlet perlu berjalan beriringan dengan dukungan nyata bagi pengembangan kemampuan mereka.
“Prestasi para atlet harus dihargai secara adil dan menjadi penguat komitmen kita dalam pembinaan. Mari terus memperkuat kolaborasi, kualitas latihan, dan regenerasi agar semakin banyak talenta Jawa Timur dapat berkembang serta berprestasi untuk Indonesia,” pungkas Khofifah.
Imam Kuncoro, yang juga Ketua NPCI Provinsi Jawa Timur, menyampaikan bahwa keberhasilan para atlet merupakan hasil kerja bersama dan pembinaan jangka panjang.
“Prestasi ini merupakan hasil kerja panjang para atlet, pelatih, dan seluruh pihak yang terlibat dalam pembinaan. Kami bersyukur atlet-atlet asal Jawa Timur dapat memberikan kontribusi bagi Indonesia. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana hasil ini menjadi pijakan untuk mempertahankan dan meningkatkan prestasi pada ajang internasional berikutnya,” ujar Imam dari Jepang.
Sejalan dengan hal tersebut, Wakil Sekretaris NPCI Provinsi Jawa Timur Roy Agustinus Soselisa menekankan pentingnya penerapan ilmu keolahragaan secara konsisten. Penguatan pembinaan perlu didukung pencarian bakat yang sistematis, peningkatan kualitas pelatih, kompetisi berkesinambungan, serta sarana latihan yang aksesibel.



















