Menu

Dark Mode
Gubernur Khofifah: Jawa Timur Adalah Rumah Bersama, Keberagaman Harus Jadi Energi Perkuat Persaudaraan UPT Pembibitan Ternak Batu Berkontribusi pada PAD Jatim, Gubernur Khofifah Dorong Pengembangan hingga 200 Ekor Gubernur Khofifah Buka Ruang Sinergi dengan ICMI Jatim, Dorong Hasil Riset Perguruan Tinggi Berdampak bagi Masyarakat Gubernur Khofifah Salurkan 15.000 Liter Air Bersih ke Karangpatihan, Perkuat Intervensi Krisis Air di Ponorogo PERHUMAS Surabaya Raya Gelar Sharing Session, Bahas Tantangan Humas Membangun Trust di Era Digital Gubernur Khofifah Kembali Hadirkan Pasar Murah, Sediakan 10 Komoditas Pangan Strategis di Mojokerto

Sosial & Budaya

Gubernur Khofifah: Jawa Timur Adalah Rumah Bersama, Keberagaman Harus Jadi Energi Perkuat Persaudaraan

badge-check


Gubernur Khofifah: Jawa Timur Adalah Rumah Bersama, Keberagaman Harus Jadi Energi Perkuat Persaudaraan Perbesar

MAKKAH, 22 SEPTEMBER 2026 — Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak  seluruh masyarakat memperkuat peran dalam menjaga perdamaian dan kerukunan. Caranya yaitu dengan memperkuat sikap saling menghormati, toleransi, serta kepedulian terhadap sesama. Salah satunya sebagai peace maker.

Ajakan tersebut disampaikan Gubernur Khofifah bertepatan dengan Hari Perdamaian Internasional yang diperingati setiap 21 September. 

Tahun ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengusung tema “Invest in Peace: For Everyone, Everywhere, Every Day” atau “Berinvestasi dalam Perdamaian: Untuk Semua Orang, Di Mana Saja, Setiap Hari”.

Menurut Khofifah, tema tersebut menegaskan bahwa menjaga perdamaian merupakan tanggung jawab bersama. Perdamaian tidak hanya menjadi urusan pemerintah, organisasi internasional, maupun para pemimpin dunia, tetapi harus dirawat oleh setiap orang dari lingkungan terdekat.

“Perdamaian dan kerukunan tidak hadir dengan sendirinya. Keduanya harus terus dijaga melalui sikap saling menghormati, kesediaan untuk mendengar, serta kemampuan menyelesaikan perbedaan melalui dialog,” kata Khofifah, Selasa (22/9/2026). 

Khofifah menegaskan, perdamaian bukan hanya ketiadaan konflik, tetapi hadirnya rasa saling menghormati, saling memahami, dan saling membantu dalam kehidupan bersama.

Nilai-nilai tersebut harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang agar perdamaian dapat tumbuh sebagai budaya dalam kehidupan bermasyarakat.

“Perdamaian harus dapat dirasakan dalam bentuk rasa aman, penghormatan terhadap martabat manusia, keadilan, kesempatan untuk berkembang, serta kehidupan sosial yang harmonis. Inilah nilai-nilai yang harus terus kita jaga dan wariskan kepada generasi mendatang,” tegasnya.

Khofifah menyebut, upaya menjaga perdamaian harus dimulai dari kemampuan setiap individu menciptakan kedamaian dalam diri. Kedamaian tersebut kemudian diwujudkan dalam hubungan yang harmonis di lingkungan keluarga, tempat tinggal, tempat kerja, dan masyarakat.

Menurutnya, cinta kasih, kebijaksanaan, pengendalian diri, serta penghormatan terhadap sesama merupakan fondasi penting untuk menciptakan perdamaian yang berkelanjutan.

“Kedamaian harus dimulai dari dalam diri. Ketika seseorang memiliki cinta kasih, kebijaksanaan, dan kemampuan mengendalikan diri, maka ia akan lebih mampu menghargai orang lain dan menyelesaikan perbedaan tanpa kekerasan,” tuturnya.

Kondisi yang aman dan damai juga menjadi landasan penting bagi kelancaran pendidikan, pertumbuhan ekonomi, pelayanan publik, serta pembangunan kesejahteraan masyarakat.

“Pembangunan akan berjalan optimal apabila masyarakat hidup dalam suasana aman, tenteram, dan rukun. Karena itu, menjaga perdamaian juga berarti menjaga keberlanjutan pembangunan dan masa depan generasi berikutnya,” ujarnya.

Tidak hanya itu, Gubernur Khofifah mengatakan, Jawa Timur selama ini dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi toleransi, gotong royong, dan kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman suku, agama, budaya, tradisi, dan latar belakang sosial masyarakat.

Keberagaman tersebut merupakan modal sosial yang harus terus dirawat. Perbedaan harus menjadi kekuatan untuk mempererat persaudaraan dan saling melengkapi, bukan berkembang menjadi prasangka, diskriminasi, kebencian, maupun kekerasan.

“Jawa Timur adalah rumah bersama. Keberagaman yang kita miliki harus menjadi energi untuk memperkuat persaudaraan dan gotong royong, bukan alasan untuk saling menjauhkan atau memecah persatuan,” katanya.

Menurut Khofifah, upaya menjaga perdamaian dan kerukunan harus dimulai dari keluarga. Orang tua memiliki peran penting dalam menanamkan empati, menghargai perbedaan, menghindari kekerasan, dan membiasakan penyelesaian persoalan melalui musyawarah.

Nilai yang sama perlu diperkuat di sekolah, kampus, tempat kerja, tempat ibadah, lingkungan permukiman, serta berbagai komunitas di tengah masyarakat.

“Menjaga kerukunan dapat dimulai dari tindakan sederhana, seperti menghormati tetangga, membantu mereka yang membutuhkan, tidak memaksakan kehendak, serta bersedia berdialog ketika terjadi perbedaan,” jelasnya.

Khofifah juga mendorong generasi muda mengambil peran aktif dalam menjaga perdamaian. Anak-anak muda memiliki energi, kreativitas, dan jangkauan komunikasi yang besar untuk memperluas persahabatan lintas kelompok sekaligus mencegah tumbuhnya prasangka.

Sekolah, kampus, dan komunitas diharapkan terus membuka ruang dialog yang mempertemukan beragam pandangan. Dialog tersebut penting untuk melatih kemampuan mendengar, memahami perspektif orang lain, dan mencari solusi bersama.

“Generasi muda harus menjadi penggerak kerukunan. Gunakan kreativitas dan jejaring yang dimiliki untuk menyebarkan semangat persaudaraan serta menghadirkan perubahan yang positif,” pesannya.

Di tengah derasnya arus informasi, Khofifah turut mengingatkan pentingnya menjaga perdamaian di ruang digital. Masyarakat diminta tidak mudah menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, ujaran kebencian, provokasi, ataupun konten yang merendahkan kelompok lain.

Kebebasan menyampaikan pendapat, lanjutnya, harus dijalankan dengan etika, empati, dan tanggung jawab. Kritik tetap diperlukan dalam kehidupan demokrasi, tetapi harus disampaikan secara beretika serta diarahkan untuk memperbaiki keadaan.

“Setiap unggahan dan pesan yang kita kirim dapat memperkuat persaudaraan atau justru memperlebar perpecahan. Mari gunakan media sosial untuk menyebarkan kebaikan, harapan, dan pesan yang menyejukkan,” katanya.

Khofifah menambahkan, berinvestasi dalam perdamaian juga berarti menghadirkan pelayanan yang adil dan inklusif serta memastikan setiap masyarakat memperoleh kesempatan yang setara. Ketimpangan, diskriminasi, dan keterasingan sosial harus ditangani bersama agar tidak berkembang menjadi sumber konflik.

Pemprov Jatim berkomitmen terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah kabupaten dan kota, tokoh agama, tokoh masyarakat, lembaga pendidikan, media, dunia usaha, komunitas, perempuan, dan generasi muda dalam menjaga harmoni sosial.

Pada momentum Hari Perdamaian Internasional 2026, Khofifah menyampaikan apresiasi kepada seluruh elemen masyarakat yang selama ini konsisten menjaga kerukunan dan persaudaraan di lingkungannya masing-masing.

“Selamat Hari Perdamaian Internasional Tahun 2026. Mari menjaga perdamaian dan kerukunan untuk semua orang, di mana saja, dan setiap hari. Mulailah dari kedamaian dalam diri, keluarga, lingkungan sekitar, tempat kerja, ruang pendidikan, hingga ruang digital,” ucapnya.

“Dengan cinta kasih, kebijaksanaan, pengendalian diri, sikap saling menghormati, dan semangat gotong royong, insyaallah Jawa Timur akan terus menjadi rumah yang aman, harmonis, dan penuh persaudaraan,” pungkasnya.

Baca Lainnya

UPT Pembibitan Ternak Batu Berkontribusi pada PAD Jatim, Gubernur Khofifah Dorong Pengembangan hingga 200 Ekor

22 September 2026 - 01:49 WIB

Gubernur Khofifah Buka Ruang Sinergi dengan ICMI Jatim, Dorong Hasil Riset Perguruan Tinggi Berdampak bagi Masyarakat

21 September 2026 - 08:20 WIB

Gubernur Khofifah Salurkan 15.000 Liter Air Bersih ke Karangpatihan, Perkuat Intervensi Krisis Air di Ponorogo

21 September 2026 - 00:40 WIB

Berita Populer di Sosial & Budaya