Menu

Dark Mode
Gubernur Khofifah Perkuat Semangat Kemerdekaan Lewat Pasar Murah dan Pembagian Ribuan Bendera di Gresik Jaga Jatim Tetap Damai di Era Digital, Gubernur Khofifah Dorong Budaya Positif di Ruang Siber Sambut IGIC 2026, Gubernur Khofifah Ajak Masjid Perkuat Pemberdayaan Umat, Diplomasi, dan Perdamaian Pendidikan Vokasi Jadi Kunci SDM Unggul, Gubernur Khofifah Perkuat Kolaborasi Perguruan Tinggi dan Dunia Industri Gubernur Khofifah Terima Dubes Maroko di Grahadi, Buka Peluang Beasiswa hingga Investasi bagi Jawa Timur Kebakaran KMP Mutiara Sentosa II, Gubernur Khofifah dan Kapolda Jatim Pastikan Evakuasi Berjalan Terpadu

Sosial & Budaya

Gubernur Khofifah Kukuhkan Prof. Amany Lubis Pimpin APMNU, Perkuat Fondasi Organisasi dan Khidmah Keilmuan

badge-check


Gubernur Khofifah Kukuhkan Prof. Amany Lubis Pimpin APMNU, Perkuat Fondasi Organisasi dan Khidmah Keilmuan Perbesar

SURABAYA, 9 FEBRUARI 2026 – Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU yang juga Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa membuka  Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Asosiasi Professor Muslimat Nahdlatul Ulama (APMNU) serta mengukuhkan pengurus APMNU yang digelar di Kantor Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Jawa Timur, Surabaya. Jum'at (6/2) malam. 

Rakornas yang diikuti para profesor Muslimat NU dari berbagai daerah di Indonesia dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI Arifatul Choiri Fauzi itu berlangsung secara sederhana dan bersahaja. 

Rakornas ini menjadi forum konsolidasi gagasan sekaligus penguatan peran perempuan ulama dan akademisi Muslimat NU dalam merespons berbagai tantangan zaman. Selain membahas Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga (PD/PRT) organisasi, pertemuan juga menjadi ruang pertukaran pemikiran strategis terkait kontribusi keilmuan bagi masyarakat.

Dalam Rakornas tersebut, Khofifah mengajak para profesor Muslimat NU untuk memperkuat peran strategis kalangan intelektual perempuan dalam memberikan kontribusi pemikiran, penguatan nilai keagamaan moderat, serta solusi atas berbagai persoalan kebangsaan.

Sebab, menurutnya, kehadiran para akademisi perempuan NU harus mampu menjembatani ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat.

“Para profesor Muslimat NU memiliki kapasitas keilmuan yang sangat kuat. Tantangannya adalah bagaimana ilmu tersebut dibumikan, memberi solusi nyata, dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat,” ujar Khofifah.

Khofifah menambahkan, forum intelektual tidak harus selalu berlangsung dalam suasana formal. Ruang dialog yang hangat dan egaliter justru dapat melahirkan gagasan yang jernih serta keputusan yang bijaksana.

“Para professor Muslimat NU adalah sosok-sosok dengan kapasitas keilmuan yang tinggi. Namun kekuatan NU juga terletak pada tradisi kebersamaan dan kesederhanaan. Ini menjadi simbol bahwa intelektualitas dan kerakyatan bisa berjalan beriringan,” ujar Khofifah.

Ia juga mengapresiasi Rakornas Asosiasi Professor Muslimat NU yang membahas PD/PRT sebagai fondasi penting dalam memperkuat organisasi secara struktural dan kultural. Menurutnya, perumusan aturan dasar yang kokoh akan menjadi pijakan bagi kontribusi nyata para professor Muslimat NU dalam pembangunan bangsa.

Pada kesempatan yang sama, Khofifah mengukuhkan Asosiasi Professor Muslimat NU yang dipimpin oleh Prof. Dr. Amany Lubis . Khofifah berharap Asosiasi Professor Muslimat NU dapat terus menjadi ruang pengabdian keilmuan yang memberi manfaat luas bagi umat dan bangsa.

“Ilmu yang tinggi akan semakin bermakna ketika dibumikan dengan ketulusan, kesederhanaan, dan semangat khidmah. Inilah nilai yang terus kita rawat bersama di Muslimat NU,” pungkasnya.

 

Baca Lainnya

Gubernur Khofifah Perkuat Semangat Kemerdekaan Lewat Pasar Murah dan Pembagian Ribuan Bendera di Gresik

5 August 2026 - 07:32 WIB

Jaga Jatim Tetap Damai di Era Digital, Gubernur Khofifah Dorong Budaya Positif di Ruang Siber

5 August 2026 - 01:35 WIB

Sambut IGIC 2026, Gubernur Khofifah Ajak Masjid Perkuat Pemberdayaan Umat, Diplomasi, dan Perdamaian

4 August 2026 - 12:20 WIB

Berita Populer di Sosial & Budaya