Jakarta, Petik – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengingatkan generasi muda, khususnya Generasi Z (Gen Z), agar lebih kritis dalam menyikapi informasi yang beredar di ruang digital. Menurutnya, algoritma media sosial dapat menciptakan ilusi seolah-olah suatu opini atau pandangan merupakan suara mayoritas, padahal kenyataannya belum tentu demikian.
Dalam era digital yang semakin berkembang, algoritma berperan besar dalam menentukan informasi yang muncul di beranda pengguna. Kondisi ini dapat membuat seseorang hanya terpapar pada informasi yang sejalan dengan pandangannya, sehingga membentuk ruang gema atau echo chamber yang berpotensi mempersempit perspektif terhadap suatu isu.
Menkomdigi menegaskan bahwa demokrasi yang sehat membutuhkan masyarakat yang mampu berpikir kritis dan tidak mudah terpengaruh oleh arus informasi yang belum tentu akurat. Karena itu, generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu melakukan verifikasi terhadap berbagai konten yang mereka temui di media sosial.
Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk mewaspadai penyebaran hoaks, provokasi, serta manipulasi informasi yang dapat memperkeruh suasana di ruang digital. Pemerintah menilai kebebasan berpendapat merupakan bagian penting dari demokrasi, namun pengguna internet tetap perlu mengedepankan etika, tanggung jawab, dan literasi digital dalam menyampaikan maupun menerima informasi.
Melalui peningkatan literasi digital, Gen Z diharapkan mampu menjadi generasi yang cerdas dalam memanfaatkan teknologi, tidak mudah terjebak dalam bias algoritma, serta berkontribusi dalam menciptakan ekosistem digital yang sehat, inklusif, dan mendukung kehidupan demokrasi yang berkualitas.
Sumber : InfoPublik.id



















