Jakarta, Petik — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Perum Bulog tengah menguji pemanfaatan teknologi iradiasi untuk memperpanjang masa simpan beras sebagai upaya menjaga kualitas cadangan pangan nasional.
Inovasi ini dilakukan untuk menjawab tantangan penyimpanan beras dalam jumlah besar, terutama dalam mencegah kerusakan akibat serangan hama. Pemerintah menilai penguatan teknologi pascapanen menjadi langkah penting dalam menjaga stabilitas pangan.
Teknologi iradiasi bekerja dengan menggunakan penyinaran energi tinggi untuk memutus siklus hidup hama, seperti telur dan larva yang terdapat dalam beras. Metode ini dinilai efektif karena mampu mengendalikan hama tanpa merusak kualitas fisik maupun kandungan gizi.
Selain itu, iradiasi dianggap lebih ramah lingkungan dibandingkan metode konvensional berbasis bahan kimia, karena tidak meninggalkan residu dan tidak meningkatkan suhu secara signifikan, sehingga mutu beras tetap terjaga.
Melalui uji coba ini, pemerintah berharap masa simpan beras dapat diperpanjang secara signifikan. Hal ini diharapkan dapat mengurangi kerugian akibat penurunan kualitas serta meningkatkan efisiensi pengelolaan logistik pangan.
Kerja sama BRIN dan Bulog juga mencakup evaluasi kondisi gudang serta sistem penyimpanan agar teknologi yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Pendekatan berbasis riset ini diharapkan menghasilkan solusi yang efektif dan aplikatif.
Dengan langkah tersebut, pemerintah optimistis teknologi iradiasi dapat menjadi terobosan dalam menjaga kualitas cadangan beras sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan.





















