Menu

Dark Mode
Gubernur Khofifah Ajak Perkuat Konektivitas Jatim–Uzbekistan, Dukung Pengembangan Wisata Religi dan Ziarah HIKAM Karesidenan Kediri Konsolidasikan Peran Alumni Lewat Halal Bihalal, Teguhkan Komitmen Mengaji, Berdakwah, dan Berkhidmat untuk Umat Gubernur Khofifah Dorong Talenta Murid Jatim Tembus Dunia, Perkuat Prestasi Lewat Ajang Kompetisi 2026 HIKAM Madiun Raya Konsolidasikan Ukhuwah melalui Halal Bihalal, Perkuat Peran Keluarga dalam Mencetak Generasi “Bener” Gubernur Khofifah Imbau Kepala Daerah Tinjau Langsung Pelaksanaan MBG, Pastikan Distribusi dan Kualitas Layanan Terjaga Kemendikdasmen Optimalkan Teknologi di Sekolah 3T

Ekonomi & Bisnis

Ekonom: Ini saat Tepat BI Pangkas Suku Bunga

badge-check


Ekonom: Ini saat Tepat BI Pangkas Suku Bunga Perbesar

Jakarta – Momentum untuk mendorong pemulihan ekonomi Indonesia semakin menguat. Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menyebut bahwa bulan ini adalah waktu yang tepat bagi Bank Indonesia (BI) untuk menurunkan suku bunga acuan (BI Rate).

Fakhrul menilai, stabilitas nilai tukar rupiah yang mulai menguat, seiring meredanya tekanan eksternal, terutama konflik perdagangan global, membuka ruang bagi pelonggaran moneter. Terlebih, BI sendiri sudah memberi sinyal kuat dalam pernyataan bulanannya April lalu.

“Bank Indonesia telah secara eksplisit menyampaikan bahwa mereka mencermati ruang penurunan suku bunga, selama stabilitas nilai tukar dan inflasi tetap terjaga, serta untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Fakhrul, dalam keterangannya ke InfoPublik, Senin (19/5/2025).

Ia menambahkan, kondisi makro saat ini memang memberi peluang besar untuk mendukung pertumbuhan melalui pelonggaran moneter. Terlebih lagi, prospek ekonomi global yang melemah membuat urgensi stimulus semakin tinggi.

Selain suku bunga acuan, Fakhrul juga menyoroti instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Menurutnya, pasar berharap agar BI mulai menyesuaikan strategi SRBI seiring menguatnya rupiah.

“Penurunan tingkat imbal hasil SRBI dan penyesuaian jumlah lelang yang dimenangkan dapat memperbaiki likuiditas di pasar uang. Ini penting agar penurunan suku bunga bisa efektif mendorong intermediasi,” jelasnya.

Fakhrul juga mendorong kelanjutan pelonggaran kebijakan makroprudensial. Ia menilai, di tengah tren pertumbuhan ekonomi yang masih moderat, peran kebijakan makro menjadi krusial untuk mendukung ekspansi kredit dan permintaan domestik.

Di sisi pasar modal, sinyal positif global dan stabilnya domestik memberi ruang bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk melanjutkan penguatan. Fakhrul memperkirakan, pemangkasan suku bunga akan menjadi katalis utama pekan ini.

“IHSG bisa menuju 7.300 dalam waktu dekat. Sektor perbankan biasanya akan menjadi motor penggerak utama, apalagi dengan arus masuk dana asing yang semakin deras,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengingatkan agar pelaku pasar tetap mewaspadai aksi profit taking, terutama jika eskalasi ketegangan geopolitik kembali meningkat.

Selain suku bunga dan stabilitas pasar, Fakhrul menekankan pentingnya memperhatikan realisasi belanja pemerintah melalui APBN, terutama untuk April dan Mei.

“Pasar akan sangat mencermati seberapa besar suplai obligasi negara dan bagaimana realisasi belanja pemerintah. Eksekusi anggaran yang tepat waktu akan menentukan arah ekonomi di semester kedua: rebound atau stagnan,” pungkasnya.

Menurutnya, volatilitas jangka pendek telah mulai mereda, namun arah kebijakan fiskal dan belanja pemerintah akan menjadi faktor penentu keberlanjutan pemulihan ekonomi nasional.

Baca Lainnya

Sertifikat Wakaf Diserahkan, Kepastian Hukum Rumah Ibadah Diperkuat

4 April 2026 - 04:09 WIB

Pembaruan Data Pertanahan Dukung Tata Ruang yang Lebih Akurat

4 April 2026 - 04:05 WIB

LPS Percepat Pembayaran Klaim Simpanan Nasabah

4 April 2026 - 00:25 WIB

Berita Populer di Ekonomi & Bisnis