Menu

Dark Mode
Pengendalian Lahan Sawah Diperkuat untuk Jaga Produksi Pangan Antusiasme Warga Dongkrak Pendapatan UMKM di Bazar Rakyat Menteri PU Fokuskan Percepatan Distribusi Air hingga Lahan Petani Ditjen Hubud Imbau Masyarakat Patuhi Aturan Balon Udara Gubernur Khofifah Tekankan Kepastian Tata Ruang dan Sertifikasi Tanah untuk Dukung Investasi dan Lindungi Lahan Pangan Gubernur Khofifah Dorong Perbaikan Berkelanjutan LKPD, Tekankan Pentingnya Tindak Lanjut Rekomendasi BPK

Sosial & Budaya

Negara Hadir untuk Anak: Dari Gizi dan Kesehatan hingga Sekolah Layak

badge-check


Negara Hadir untuk Anak: Dari Gizi dan Kesehatan hingga Sekolah Layak Perbesar

Jakarta – Hari Anak Nasional (HAN) bukan sekadar perayaan tahunan. Presiden Prabowo Subianto ingin peringatan ini juga menghadirkan aksi nyata dalam menjamin masa depan anak-anak Indonesia.

Tenaga Ahli Utama Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) Dedek Prayudi mengatakan, pemerintah memiliki tiga program unggulan yang secara langsung menyasar anak-anak: Makan Bergizi Gratis (MBG), Cek Kesehatan Gratis (CKG), dan Revitalisasi Sekolah.

Menurut Uki, sapaan akrab Dedek, program MBG tidak hanya membuat anak-anak kenyang, tetapi juga memastikan terpenuhinya standar gizi dan nutrisi harian bagi anak. Sebab, merujuk data Kemenkes, sebanyak 60 persen atau 3 dari 5 anak-anak sekolah tidak sarapan sebelum berangkat ke sekolah.

Akibatnya, mereka cenderung tidak fokus dan cepat lelah. Selain itu, tidak sarapan sebelum berangkat sekolah juga menyebabkan anak-anak mengalami anemia defisiensi zat besi (iron deficiency anemia). Dampaknya jangka panjangnya, anak-anak bisa mengalami penurunan IQ hingga 6 poin atau lebih, menurut berbagai studi ilmiah di bidang nutrisi dan perkembangan anak.

“Sebanyak 38% atau hampir 2 dari 5 anak-anak usia sekolah menderita anemia, lemas dan tidak fokus. Program Makan Bergizi Bergizi hadir bukan sekadar memberi makanan, tetapi memberi zat gizi penting seperti zat besi yang dibutuhkan anak-anak untuk tumbuh cerdas, kuat, dan percaya diri,” kata Uki di Jakarta, Rabu (23/7/2025).

Selain MBG, pemerintah juga menggulirkan program Cek Kesehatan Gratis untuk anak-anak sekolah. Layanannya meliputi pemeriksaan tinggi badan, berat badan, penglihatan, pendengaran, TBC, hingga kesehatan mental.

“Membentuk generasi emas, tidak cukup hanya dengan menyediakan makanan bergizi. Pemerintah menjalankan amanat UUD 1945 pasal 28 (H) ayat 1 dan 3 tentang hak kesehatan untuk masyarakat, termasuk anak-anak,” ujarnya.

Uki menjelaskan, ada dua jenis hak kesehatan menurut konstitusi. Hak untuk mendapatkan layanan kesehatan dan hak untuk sehat. Program Cek Kesehatan Gratis merupakan cara pemerintah untuk memproteksi kesehatan masyarakat.

“Cek Kesehatan Gratis ini mengisi atau memenuhi hak masyarakat, hak rakyat indonesia, termasuk anak-anak, agar kesehatan mereka diproteksi oleh negara. CKG akan melindungi, memproteksi, mereka yang belum terindikasi satu penyakit, dengan dilakukannya pemeriksaan secara gratis,” jelas Uki.

Program ketiga yang juga ditujukan untuk anak-anak adalah program revitalisasi sekolah. Program ini menargetkan renovasi sebanyak 11.440 sekolah pada awal tahun 2025. Fokus utamanya adalah sekolah-sekolah (SD, SMP, SMA/SMK, SLB negeri dan swasta) di daerah terdepan, terluar, tertinggal (3T) dan wilayah padat penduduk yang kekurangan fasilitas belajar yang layak.

Presiden Prabowo telah mengalokasikan dana sekitar Rp 20 triliun pada APBN 2025 untuk membiayai program ini. Menurut Uki, program ini nerupakan respons atas tingginya angka sekolah rusak, baik ringan, sedang, atau berat, mulai tingkat SD hingga SMA.

Berdasarkan data, total sekolah rusak sedang dan berat di semua jenjang berjumlah sekitar 119.700 sekolah di seluruh Indonesia, meliputi sebanyak 19.925 sekolah rusak berat dan 99.800 rusak sedang.

“Program ini terutama menyasar sekolah yang rusak sedang dan berat. Untuk yang rusak sedang, bahkan anak-anak sampai tidak bisa mengakses toilet sekolah,” jelasnya.

Menurut Uki, kondisi ini sangat mengkhawatirkan, khususnya siswi. Banyak dari mereka yang terpaksa menahan buang air kecil selama beberapa jam selama proses belajar mengajar berlangsung.

“Jadi ini berbahaya. Karena bangunan sekolah itu bukan cuma ruang kelas,” tutup Uki.

Baca Lainnya

Kunjungan Presiden ke Jepang Buka Peluang Kerja Sama Teknologi

30 March 2026 - 03:48 WIB

Pemerintah Dorong PSEL untuk Wujudkan Lingkungan Bersih 2029

30 March 2026 - 03:10 WIB

Gubernur Khofifah Soroti Tingginya Mobilitas 19 Juta Pergerakan Wisatawan Saat Lebaran 2026 di Jawa Timur

30 March 2026 - 02:10 WIB

Berita Populer di Sosial & Budaya